Tampilkan postingan dengan label Vitamin Jiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Vitamin Jiwa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Oktober 2011

Show Your True Colors


  What is your true color?
Whatever it is, just show it!

You with the sad eyes
Don't be discouraged
Oh I realize
It's hard to take courage
In a world full of people
You can lose sight of it all
And the darkness, inside you
Can make you feel so small

But I see your true colors
Shining through
I see your true colors
And that's why I love you
So don't be afraid to let them show
Your true colors
True colors are beautiful,
Like a rainbow

Show me a smile then,
Don't be unhappy, can't remember
When I last saw you laughing
If this world makes you crazy
And you've taken all you can bear
You call me up
Because you know I'll be there

And I'll see your true colors
Shining through
I see your true colors
And that's why I love you
So don't be afraid to let them show
Your true colors
True colors are beautiful,
Like a rainbow

"True Colors" (Phill Collins)

Rabu, 19 Oktober 2011

We Are Like Pencils


An artist was looking at his pencil
and began speaking to the pencil,

"There are five capabilities 
you need to realize about yourself.
After this, you will know that you can be
the best pencil ever:

"You are capable in doing many things,
but you must let yourself
be managed by someone's hand..."

"You're way won't always be smooth,
at times you will be sharpened painfully
for you to create better writing and drawing..."

"If you make any mistakes, don't worry
because you're capable of
correcting your own mistakes.

"What's important is the quality inside of you..."

"Whatever happens, never quit!
Keep on writing and continue drawing.
You must always leave a clear mark
no matter how difficult the situation..."

The pencil listened attentively and promised
to do what it was told...
All it wanted was to make an artist
proud of it...

Now imagine us in the position of the pencil.
If we want to be a person with quality,
we must remember these:

We will be able to do many wonderful things in our lives,
but only if we allow ourselves
to be held in God's hand
as well as sharing the many gifts
you have with others.

You will experience many rough roads in your life
but you must be strong...
That's the only way you will be strong.

What's important is what people see inside you,
not the out side.

Whereever you walk,
make sure you leave your mark.
Whatever the condition,
continue to serve God in all you can.

You must not worry about making mistakes,
learn from them and in time
you will be able to correct and avoid it.

Everyone of us is like a pencil...
created uniquely
and for special reason by the might Maker.

We need to understand those reasons 
so our lives on earth
will be a meaningful one,
while having a close relationship
with God in our heart

Senin, 10 Oktober 2011

Where is my home?

Is my house really really my home?

Suatu ketika, Ana menyadari bahwa rumahnya bukanlah tempat yang benar-benar membuatnya nyaman. Orang tuanya sering bertengkar karena kesulitan ekonomi. Dia dan adik-adiknya seringkali menangis melihat kedua orang tuanya beradu-mulut bahkan melontarkan kata-kata yang menurutnya menyakitkan hati. Ketidaknyamanannya di dalam rumah, membuatnya sangat berkeinginan untuk tinggal jauh dari rumah, agar ia tidak mendengar keributan antara kedua orang tuanya…
Kisah Ana, bukanlah kisah satu-satunya tentang ketidaknyamanan rumah. Tentang house is not really-really home. Rumah dalam bentuk fisik, bisa jadi sebuah rumah mewah, berisi perabot-perabot mahal bahkan fasilitas hiburan yang modern. Mau main playstation bisa, mau nonton, fasilitas hometheatre tersedia. Tapi apakah rumah dengan berbagai fasilitas tersebut, bisa membuat anak yang berada dalam rumah tersebut nyaman secara psikis?

Kebutuhan akan penerimaan adalah hal yang paling mendasar bagi seorang anak untuk merasa nyaman dalam sebuah keluarga. Anak seringkali hanya butuh didengarkan, bukan ditanggapi. Anak seringkali hanya butuh seukir senyum dari orang tua yang ia kasihi, bukan nasehat yang bertubi-tubi. Inilah yang seringkali menjadi akar kesalahpahaman antar keluarga.

Keluarga adalah kumpulan orang yang paling dekat dengan anak. Kedekatan tersebut menjadikan keluarga sebagai pihak yang paling berpengaruh terhadap psikis anak. Dorongan, motivasi, pelukan yang hangat, kata-kata yang bijak, dapat membangkitkan semangat seorang anak untuk menjadi tough dalam menghadapi tantangan-tantangan hidupnya. Keakraban dalam keluarga menjadi benteng psikis bagi anak ketika ia bergaul dengan dunia luar (di luar keluarganya). 

Dunia luar penuh dengan prinsip-prinsip yang strange untuk seorang anak. Namun apabila sebelum ia keluar dari rumah, ia telah dibekali dengan prinsip-prinsip dari rumah, dan prinsip-prinsip tersebut ditanamkan dengan kasih sayang, maka seorang anak akan punya ketahanan untuk mempertahankan prinsip-prinsip tersebut ketika terjadi pertarungan dengan prinsip-prinsip dunia luar. 

Jika orang tua sudah tidak care (peduli) dengan anak, maka hal ini akan menjadi scare (ketakutan) bagi anak. Secara psikologis, benteng atau ketahanannya untuk menghadapi tantangan hidup melemah. Itulah sebabnya anak kehilangan arah, dan terjerumus ke dalam juvenile delinquency (kenakalan remaja). Mereka mencari jati diri mereka di luar, karena mereka tidak menemukan jati diri mereka dalam keluarga. Mereka mencari komunitas yang lebih bisa menerima mereka dengan segala kekurangannya. Penerimaan itu tidak mereka dapatkan di rumah.


Setelah house is really really not home, where is the real home?

Keinginan Ana benar-benar terpenuhi. Ia berhasil tinggal di luar rumah, karena ia berhasil masuk ke sekolah berasrama. Sekarang ia tinggal dengan teman-teman sebayanya…
"Di seberang sana, ada seorang lelaki yang menawan hati," pikirnya.

"Kelihatannya ia begitu memperhatikanku", gumamnya. 

Ia kemudian meyakinkan dirinya untuk dekat, dengan harapan bahwa lelaki itulah yang akan menjadi home baginya – tempat yang aman untuk berbagi tentang kehidupan, sekaligus tempat yang nyaman untuk sekedar bersandar melepaskan kelelahan menghadapi tantangan hidup.

Dari tahun ke tahun, Ana merajut hubungan. Perjuangan demi perjuangan dilalui agar hubungan tersebut tetap terpelihara.

Secara psikologis, seorang anak yang telah memasuki usia akil-balig mempunyai hasrat untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Menjalin hubungan dengan orang yang dianggap bisa menerima dirinya apa adanya merupakan salah satu "home" bagi seseorang. Ia mencari kenyamanan di sana. Ia mencari tempat dimana ia bisa diterima dan diperlakukan sebagaimana ia ingin diperlakukan. Hal-hal yang tidak ia dapat di dalam rumah, akan terus-menerus ia cari dalam perjalanan hidupnya. Lalu, suatu ketika, ia mendapatkan seorang lawan jenis yang menerima dirinya apa adanya, maka hubungan itu akan ia pertahankan, seiring dengan kebutuhannya akan penerimaan. 

Tapi setelah 6 tahun membangun hubungan, konflik terjadi.

"Maaf Ana, hubungan kita tidak bisa kita lanjutkan, karena kau dan aku berasal dari suku yang berbeda. Status sosial kita juga berbeda. Aku pikir lebih baik kita mengakhiri hubungan ini sampai di sini."

Hati Ana pedih mendengar perkataan itu. Ia hanya terisak dan hampir tak sanggup berkata apapun.

"Aku tetap akan menunggumu...", kata Ana spontan. Ana memang sudah terbiasa menunggu. Selama 6 tahun, Ana sudah terbiasa menunggu, karena kekasihnya adalah seorang perwira yang seringkali ditugaskan ke tempat yang jauh dalam waktu yang cukup lama.

"Kau tak usah menungguku. Apa yang kau lakukan seperti paku yang sudah kau tancap lalu kau cabut kembali. Bekas tancapan itu tidak akan pernah hilang. sampai kapanpun...Setelah ini, aku akan pergi ke Malaysia"

"Aku tetap akan menunggumu..."


"Hmmm..... Sampai kapan?"

"Sampai kau kembali dari Malaysia..."

Ana tetap berharap, meskipun Ana tahu, ruangnya untuk mengharapkankan sang kekasih kembali kepadanya sangatlah kecil bahkan hampir tidak ada sama sekali.


Setelah 6 bulan berada di Malaysia, Ana mendengar kabar bahwa kekasihnya telah menjalin hubungan dengan wanita lain. Kenyataan itu seperti berkata,


"Sudah ku katakan, kau tidak usah menungguku lagi..."

Harapan Ana benar-benar musnah. Ia tak menyangka, secepat itu lelaki yang dulu berkata sangat mencintainya, berpaling ke lain hati.

"So, where is my real home?" jerit Ana dalam hati…

Ketika terjadi konflik, penerimaan itu berubah menjadi penolakan. Penolakan tragis yang dialami oleh seseorang merupakan kejadian traumatis. Seseorang yang mengalami kejadian traumatis biasanya mengalami stress pasca-trauma. Secara psikologis, stress pasca trauma terjadi karena kerusakan hippocampus. Hippocampus memiliki peran penting dalam membingkai kenangan terntang kejadian yang dialami (memori episodik atau memori autobiografi). Hippocampus merekam apa yang dilihat dan apa yang didengar, kemudian membingkai keduanya dalam sebuah persepsi. [1]


Reorganize

“Ana, daripada setiap hari kau termenung dan menangis mengingat-ingat masa lalumu, lebih baik kau lanjutkan studimu ke jenjang yang lebih tinggi. Tak ada gunanya kau mengingat-ingat masa lalu. Lebih baik kau gunakan waktumu untuk hal yang lebih berguna. Studi lanjut bisa memulihkan konsentrasimu. Bukankah kau seorang bintang kelas dari dulu? Mana semangatmu yang dulu?"


Ana hanya terpekur mendengar perkataan ibunya. Di benak Ana hanya ada bayangan kekasih yang selalu ia banggakan dan yang selalu berusaha dibuatnya bangga selama bertahun-tahun. Memori tentang mereka selalu terlintas secara otomatis dalam benaknya. Memori yang dulu menghidupinya, sekarang berubah menjadi memori yang menyakitkan hatinya.


Kembali ia terpekur dan merenung, "Siapa yang sekarang harus ku buat bangga?" 

"Orang tua.", hatinya berbisik

"Orang tua yang selama ini membesarkan, memotivasiku. Merekalah yang sekarang ini harus ku buat bangga. Selama ini aku sudah melupakan mereka hanya karena ingin setia dengan dia yang sekarang telah meninggalkanku."


Tiba-tiba, ada pesan masuk ke hp. Ana membuka dan membaca pesan yang dikirimkan oleh sahabatnya: "Hormatilah ayah-ibumu supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu."


"Ini bukan suatu sms yang kebetulan" pikirnya. Makin mantaplah niat Ana untuk  berbelok dari visi "menunggu kekasih" menuju ke visi back to school; melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi.

Pemulihan pasca trauma dilakukan dengan reorganize (penataan ulang). Penataan ulang mencakup penataan ulang prioritas dan penataan ulang emosi. Penataan ulang membutuhkan waktu dan  tempat. Butuh waktu untuk memulihkan emosi. Butuh waktu untuk menata ulang prioritas. Butuh tempat untuk menyalurkan energi. Usahakan agar energi tersebut dicurahkan untuk hal-hal yang berguna, misalnya studi lanjut, ikut dalam kegiatan sosial, menjalin komunikasi dengan teman yang baru, terlibat dalam kegiatan-kegiatan kerohanian. Hal ini bertujuan untuk membentuk identitas diri yang baru, dimana orang tersebut merasa sukses mengerjakan sesuatu. "Rasa sukses mengerjakan sesuatu", itulah yang menjadi daya dorong bagi orang tersebut untuk berkarya. Rasa sukses  tersebut juga membuatnya memiliki self confidence dalam menghadapi tantangan yang lebih berat dalam kelanjutan proses kehidupan.


Sebuah Renungan: Proses Kehidupan Tetap Berlangsung Sampai Rest In Peace
Proses kehidupan tetap berlangsung. Setelah seseorang menjalani tahap penataan ulang, ia kembali diperhadapkan dengan relasi dan tugas yang baru. Namun semuanya butuh kesabaran untuk mempertahankan dan memperjuangkan apa yang sudah ada, sampai pada tahap tertentu yang hanya bisa kita rencanakan, namun kita tidak tahu hasil akhirnya. 

Dalam perjalanan kehidupan, bisa jadi relasi yang kita pertahankan kemudian hilang. Bisa jadi,  keluarga, orang-orang yang kita kasihi, sahabat-sahabat terdekat, meninggalkan kita pada waktu yang tidak kita duga. Karier yang kita rajut dengan susah payah, suatu ketika bisa lenyap. Lalu apa yang bisa kita perbuat? Mempertahankan apa yang ada pada kita saat ini semampu kita, berjuang untuk melakukan yang terbaik, menyenangkan orang-orang yang dekat dengan kita selagi kita masih punya waktu untuk menyenangkan mereka.

Keluarga, teman, harta, pendidikan, karier, kedudukan, dapat membuat kita merasa nyaman, feel like home (jujur saja), tapi itu hanya akan berlangsung beberapa waktu lamanya. “Beberapa waktu lamanya” adalah rentang waktu yang tak bisa kita tentukan dengan perhitungan manusia. Those are homes but none of them is the real home. So, pertahankanlah mereka sebagai anugerah. "Anugerah" : saat mereka ada pada kita, kita bersyukur. Namun, saat mereka harus pergi, kita harus bisa melepas dengan rela hati.


Anugerah tidak selamanya ada dalam genggaman kita, karena memang begitulah mereka adanya. Anugerah bisa datang dan bisa pergi kapan saja. Ada yang tetap tinggal dalam waktu yang cukup lama, ada pula yang cepat berlalu bagaikan kilat. Sesungguhnya, kita hanyalah penerima anugerah. Sebagai penerima, nikmati dan jagailah anugerah itu selama anugerah itu  masih dipercayakan kepada kita. Itulah yang dapat kita lakukan di dunia sampai tiba saatnya ajal menjemput: we're going to rest in peace.

The real home

Bila kita masih berada di dalam dunia, kemanapun kita mencari the real home, kita tidak akan menemukannya. The real home tidak ada di dalam dunia, sebab anugerah yang kita terima di dalam dunia, hanya membuat kita nyaman untuk sementara. Those are homes but none of them is the real home. Rumah kita yang sesungguhnya berada di dalam rumah Sang Pemberi Anugerah. Di sana banyak tempat tinggal. Ke sanalah kita menuju.

"Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” (Yohanes 14: 1-2)

“Do not let your hearts be troubled. You believe in God; believe also in me. My Father’s house has many rooms; if that were not so, would I have told you that I am going there to prepare a place for you?" (John 14:1-2)





[1] Lihat: http://en.wikipedia.org/wiki/Temporal_lobe, diakses tanggal 10 Oktober 2011

Senin, 22 Agustus 2011

Hari ini aku menunggu-Mu, Tuhan


“Hari ini aku menunggu, Tuhan,
menunggu keajaiban yang akan Engkau lakukan,
menunggu kemuliaan yang telah Engkau janjikan.
Entah apa bentuknya, namun aku percaya…
ada keajaiban setiap hari”

Sejak awal aku tahu bahwa aku dapat berpikir, aku berpikir bahwa  pikirankulah yang mengendalikan seluruh hidupku Bahkan ketika masuk sekolah, aku pikir, aku dapat mengendalikan nilai berapa yang ada di kertas ujianku. Apabila nilai ujianku tidak seperti yang aku mau, artinya aku gagal mengendalikannya. Apabila aku mengerjakan sesuatu, aku mengerjakannya dengan tanganku. Jika bagus, akulah yang patut dipuji dan jika jelek, berarti pekerjaanku tidak sempurna.

Suatu ketika, saat aku membaca suatu ayat Firman dalam Roma 8:28, “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah…” aku berpikir, benarkah Engkau bekerja dalam segala sesuatu? Bagaimana dengan hal-hal buruk yang terjadi dalam hidupku, apakah Engkau juga turut bekerja bahkan menjadi dalang-Nya?

Aku pikir, kalau Allah turut bekerja, pasti segala sesuatu baik, enak, dan tidak akan ada masalah yang berarti. Tapi ternyata bukan disini intinya. Intinya bukanlah kebaikan atau keburukan, tetapi apakah kita mengasihi Allah? Karena segala sesuatu akan mendatangkan kebaikan bagi yang mengasihi Dia. Hanya bagi yang mengasihi Dia. Lalu bagaimana dengan yang tidak mengasihi Dia?

Baik. Sebelum kita memahami tentang akibat bagi yang mengasihi Dia dan yang tidak mengasihi Dia, mari kita renungkan lebih dalam lagi tentang “mengasihi Dia”. Dapatkah kita mengasihi orang yang belum pernah kita kenal? Saya secara pribadi, tidak dapat. Maka, untuk dapat mengasihi, mari kita kenal siapa yang akan kita kasihi itu. Ada sebuah ayat yang menggambarkan tentang pengenalan akan Allah:

Hikmat berseru nyaring di jalan-jalan, di lapangan-lapangan ia memperdengarkan suaranya, di atas tembok-tembok ia berseru-seru, di depan pintu-pintu gerbang kota ia mengucapkan kata-katanya. “Berapa lama lagi, hai orang yang tak berpengalaman, kamu masih cinta kepada keadaanmu itu, pencemooh masih gemar kepada cemooh, dan orang bebal benci kepada pengetahuan? Berpalinglah kamu kepada teguranku! Sesungguhnya, aku hendak mencurahkan isi hatiku kepadamu dan memberitahukan perkataanku kepadamu. Oleh karena kamu menolak ketika aku memanggil, dan tidak ada orang yang menghiraukan ketika aku mengulurkan tanganku, bahkan, kamu mengabaikan nasihatku, dan tidak mau menerima teguranku, bahkan kamu mengabaikan nasihatku, dan tidak mau menerima teguranku, maka aku juga akan menertawakan celakamu; aku akan berolok-olok, apabila kedahsyatan datang ke atasmu, apabila kedahsyatan datang ke atasmu seperti badai, dan celaka melanda kamu seperti angin puyuh, apabila kesukaran dan kecemasan datang menimpa kamu. Pada waktu itu mereka akan berseru kepadaku, tetapi tidak akan kujawab, mereka akan bertekun mencari aku, tetapi tidak akan menemukan aku. Oleh karena mereka benci kepada pengetahuan dan tidak memilih untuk takut akan Tuhan, tidak mau menerima nasihatku, tetapi menolak segala teguranku, maka mereka akan memakan buah perbuatan mereka, dan menjadi kenyang oleh rencana mereka. Sebab orang yang tidak berpengalaman akan dibunuh oleh keenganannya, dan orang bebal akan dibinasakan oleh kelalaiannya. Tetapi siapa mendengarkan aku, ia akan tinggal dengan aman, dan terlindung dari pada kedahsyatan malapetaka.” (Amsal 1:20-33)

Sebelumnya, mari kita mengerti siapakah “hikmat” yang dimaksud dalam pembacaan di atas. Dikatakan dalam Amsal 8:23, “Sudah pada zaman purbakala aku (hikmat) dibentuk, pada mula pertama, sebelum bumi ada.” Mari lihat pada awal pembentukan bumi, siapakah yang ada disana? “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” (Kejadian 1:1-2). Lihat pula dalam Yohanes 1:1, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”

Jadi, yang dimaksud dengan hikmat di atas adalah Firman Allah. Firman dalam hal ini, bukanlah sekedar sebuah buku bernama Alkitab yang berisi kata-kata, tetapi lebih daripada itu, yaitu tentang perkataan Firman dalam Alkitab yang kita alami secara pribadi dalam tuntunan Roh Kudus. Firman tidak bisa dipisahkan dengan perkerjaan Roh Kudus. Karena tanpa Roh Kudus, Firman adalah perkataan yang mati. Roh Kuduslah yang menghidupkan Firman dalam hati kita kemudian barulah terwujud melalui tindakan.

Kembali pada pengenalan akan Allah. Bagaimana cara mengenal seseorang? Berkomunikasi.
Nah, dalam pembacaan kita di atas, yang pertama kali mengajak berkomunikasi sebenarnya bukan kita, tetapi Allah sendiri melalui Roh Kudus di dalam hati kita:
“Hikmat berseru nyaring di jalan-jalan, di lapangan-lapangan ia memperdengarkan suaranya, di atas tembok-tembok ia berseru-seru, di depan pintu-pintu gerbang kota ia mengucapkan kata-katanya.”
 “…yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:8)

Dialah yang memanggil kita. Dialah yang memulai untuk berkomunikasi. Apakah tujuannya mengajak kita berkomunikasi?
“Berapa lama lagi, hai orang yang tak berpengalaman, kamu masih cinta kepada keadaanmu itu, pencemooh masih gemar kepada cemooh, dan orang bebal benci kepada pengetahuan? Berpalinglah kamu kepada teguranku!”

Ia ingin kita memperoleh pengetahuan dan mengalami pengalaman bersama Tuhan. Ia ingin kita berpaling! Bila kita diajak berpaling, artinya kita sedang tersesat dan berjalan menuju sesuatu yang berbahaya tanpa kita sadari. Tahukah kita bahwa sebenarnya Tuhan adalah gembala dan kita adalah dombanya (Mazmur 23)? Ketika kita berjalan menurut yang kita pikirkan, menurut yang kita mau, siapakah sebenarnya gembala kita? Gembala kita adalah diri kita sendiri, dan ketika kita menuruti keinginan kita sendiri, kita sedang lenyap, seperti ada tertulis:
“dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” (I Yohanes 2:17)

Lenyap menuju kepada kematian. Kematian yang dimaksud bukan hanya kematian kekal, melainkan juga kematian sekarang ini. Orang yang hidup tapi Rohnya mati, sukacitanya lenyap, damai sejahteranya lenyap. Terikat dengan dosa dan menjadi budak dosa. Maka, dengarkanlah teguran, dan berpalinglah, sekarang! Agar engkau tidak lenyap.

Lihat, bila kita berpaling, apa yang akan Allah berikan?
“Sesungguhnya, aku hendak mencurahkan isi hatiku kepadamu dan memberitahukan perkataanku kepadamu.”

Wow, kita bakal jadi tempat curhatnya Tuhan. Luar biasa! Kita diangkat menjadi sahabat-Nya. Siapa punya sahabat? Saya punya, dan dia sangat berharga untuk saya. Begitu dengan pula Tuhan. Siapa menjadi sahabat-Nya, berharga di mata-Nya.

Tetapi, lihat juga, apa akibat jika kita menolak teguran Allah.
“Oleh karena kamu menolak ketika aku memanggil, dan tidak ada orang yang menghiraukan ketika aku mengulurkan tanganku, bahkan, kamu mengabaikan nasihatku, dan tidak mau menerima teguranku, bahkan kamu mengabaikan nasihatku, dan tidak mau menerima teguranku, maka aku juga akan menertawakan celakamu; aku akan berolok-olok, apabila kedahsyatan datang ke atasmu, apabila kedahsyatan datang ke atasmu seperti badai, dan celaka melanda kamu seperti angin puyuh, apabila kesukaran dan kecemasan datang menimpa kamu. Pada waktu itu mereka akan berseru kepadaku, tetapi tidak akan kujawab, mereka akan bertekun mencari aku, tetapi tidak akan menemukan aku.”

Bila orang menolak teguran Allah, Allah tidak bertanggung jawab apabila celaka menimpanya. Bahkan Allah tidak akan mendengar seruannya.
“Oleh karena mereka benci kepada pengetahuan dan tidak memilih untuk takut akan Tuhan, tidak mau menerima nasihatku, tetapi menolak segala teguranku, maka mereka akan memakan buah perbuatan mereka, dan menjadi kenyang oleh rencana mereka.”
Inilah intinya penolakan itu: tidak memilih untuk takut akan Tuhan. Jadi, ternyata takut akan Tuhan adalah PILIHAN. Jika kita menghadapi hal yang buruk dalam hidup kita, kita dapat memilih, percaya kepada Tuhan atau pahit hati terhadap Tuhan? Bila kita memilih untuk berserah kepada Tuhan dan percaya bahwa hal buruk itu nanti akan mendatangkan kebaikan, maka kita akan berproses dengan Tuhan. Proses itu bisa lama, bisa cepat, tergantung waktu Tuhan dan tergantung penyerahan diri kita kepada-Nya.

Ketika Bangsa Israel berjalan ke Kanaan, sebenarnya Kanaan sudah di depan mata, tetapi karena mereka memilih tidak takut akan Tuhan, mereka bersungut-sungut, maka mereka dibuat Tuhan berputar-putar selama 40 tahun:
“Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak Tuhan, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apakah yang ada dalam hatimu, yakni apakah engkau berpegang kepada perintah-Nya atau tidak.” (Ulangan 8:2)

Perjalanan bangsa Israel adalah atas kehendak Tuhan untuk merendahkan hati dan mencobai apakah yang ada di dalam hati bangsa Israel. Yang diproses adalah hati kita. 

Adakah kita percaya atau pahit hati?

Sungut-sungut/gerutu adalah salah satu tanda pahit hati. Apa hasilnya?
“Ketika Tuhan mendengar gerutumu itu, ia menjadi murka dan bersumpah: Tidak seorangpun dari antara orang-orang ini, angkatan yang jahat ini, akan melihat negeri yang baik, yang dengan sumpah Kujanjikan untuk memberikannya kepada nenek moyangmu, kecuali KALEB bin YEFUNE … dan YOSUA bin NUN… dan anak-anakmu yang kecil” (Ulangan 1:34-39).
Karena gerutu, semua orang Israel yang keluar dari tanah Mesir, tidak masuk ke tanah perjanjian, termasuk Musa. Hanya Kaleb dan Yosua, serta keturunan bangsa Israel yang masuk ke tanah perjanjian. Gerutu adalah tanda enggan atau bebal.

“Sebab orang yang tidak berpengalaman akan dibunuh oleh keenganannya, dan orang bebal akan dibinasakan oleh kelalaiannya.”

Jangan sampai, keengganan kita “membunuh” kesempatan kita untuk mengenal Tuhan lebih dalam. Jangan sampai kebebalan hati kita membuat kita lalai dan binasa. Tuhanlah yang pertama kali mengajak kita untuk berkomunikasi dengan kita, Dia ingin mengenalkan pribadi-Nya kepada kita. Supaya ketika kita kenal, kita percaya. Makin kenal, makin percaya. Makin percaya, makin mengasihi-Nya. Bahkan sekalipun Ia “diam”, kita tetap tahu, bahwa Ia mengasihi kita.

“Tetapi siapa mendengarkan aku, ia akan tinggal dengan aman, dan terlindung daripada kedahsyatan malapetaka.”

Lihat, betapa Tuhan ingin hati kita mendengarkan tuntunan-Nya. Semuanya bukan untuk Dia, tetapi untuk kita sendiri. Agar kita aman dan terlindung dari kedahsyatan malapetaka. Dia tahu, selama kita hidup, kita pasti akan menemui kedahsyatan malapetaka alias hal-hal yang buruk. Tapi bedanya, bagi orang yang mendengarkan Dia, tetap aman dan terlindung, tapi bagi yang tidak mendengarkan Dia, akibatnya tidak dilindungi. Maka malapetaka bebas menjamahnya.
Ia Gembala, Ia yang berjalan di depan kita bukan kita yang berjalan di depan Dia. Ketika Ia di depan kita,  ia ingin kita, domba-domba-Nya, mendengarkan suara-Nya dan mengikuti-Nya (Yohanes 10:4). Dia tahu, ketika kita bergantung pada kemampuan manusia (pikiran, perasaan, dan tekad), kita akan mudah sekali jatuh:

“Terkutuklah orang yang mengandalkan kekuatan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan hatinya menjauh dari pada Tuhan.” (Yeremia 17:5)

Bukalah hati, mendekat kepada Tuhan karena Ia sendiri menjanjikan berkat:
“Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan. Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, yang tidak akan mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetapi hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” (Yeremia 17:7-8).
Bagi saya, membuka hati dan mendengarkan Tuhan, adalah menunggunya dari hari ke hari. Dari hari ke hari, Ia menyatakan pertolongan-Nya. Sampai hari ini aku berkata: Engkau telah menolongku sampai hari ini. Besok? Aku percaya, Engkau yang menuntun. Kadang Dia menuntun untuk berlari cepat, terkadang hanya berdiam diri. Doaku, aku hanya ingin mengenal-Nya lebih dalam dan selalu berada dekat dengan-Nya. Ketika aku dekat dengan-Nya, otomatis segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupanku mendatangkan kebaikan.

“Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari padanyalah keselamatanku. Hanya Dia gunung batuku, hanya Dia kota bentengku, aku tidak akan goyah selama-lamanya.” (Mazmur 62:1-2)
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.

Only Hope

Terinspirasi dari OST. Walk to Remember (Mandy Moore)

There's a song that's inside of my soul...
It's the one that I've tried to write over and over again...
I'm awake in the infinite cold...
But You sing to me over and over and over again...

So, I lay my head back down....
And I lift my hands and pray...
To be only Yours, I pray, to be only Yours
I know now You're My Only Hope....

Sing to me the song of the stars...
Of your galaxy dancing and laughing and laughing again...
When it feels like my dreams are so far...
Sing to me of the plans that You have for me over again...

So I lay my head back down...
And I lift my hands and pray...
To be only Yours, I pray, to be only Yours
I know now, You're My Only Hope...

I give You my destiny....
I'm giving You all of me...
I want Your symphony, singing in all that I am....
At the top of my lungs, I'm giving it back...

So I lay my head back down...
And I lift my hands and pray
To be only Yours, I pray, to be only Yours
I pray, to be only Yours
I know now You're My Only Hope....


What is Your plan? Actually I don't know, but I just can hope....
"Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya"  ~ Ibrani 6:19-20

Hope: The anchor of the soul, firm and secure
You are My Only Hope, Jesus....